Bolehkah Menggunakan Kata Radiyallohuanhu Untuk Selain Para Sahabat Nabi

06.45

══════════════════
 🔰 FAKULTAS MANHAJ 🔰
     SOAL JAWAB No. 126
══════════════════

✴️☪️ BOLEHKAH MENGGUNAKAN KATA : (RADIYALLOHUANHU) UNTUK SELAIN PARA SAHABAT ROSULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASSALAM (ﷺ)❓

❓ 🔊 Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum ustadz, mau nanya tentang penggunaan kata radhiyallahu anhu, rahimahullah, hafidzahullah pada nama shahabat Nabi shallallahu alaihi wassalam (ﷺ) dan selain mereka?.
Jazakallahu khairan. 

👆✍️ Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman As-Salafy -hafidzohullah- :

✅ Yang dhohir dari dalil boleh-boleh saja untuk menyebut para tabiin dan itbaa attabiin dengan sebutan rodiyallohuanhu, seperti keumuman Al-Qur'an :

والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوعنه...

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah..."
📚 (QS. At-Taubah :100)

Maka para tabiin dan itbaa attabiin yang semanhaj dengan Nabi shallallahu alaihi wassalam (ﷺ) dan para shohabatnya dan mereka tidak masuk kepada kebid'ahan dan masih dalam inner circle sunnah, maka Mereka dari next generation setelah para shohabat, yang mengikuti mereka dalam kebaikan seperti di lafdz :
                                                            والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوعنه

Artinya: "dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah."

Seperti difatwakan As-Syeikh Ibn Baaz :

ليس في هذا حرج إذا قال: رضي الله عنه، عن المؤمنين ولو كانوا من التابعين أو أتباع التابعين، لكن اشتهر العرف بين أهل العلم الترضي عن الصحابة، والترحم على من بعدهم والأمر في هذا واسع، والحمد لله، فإذا ذكر الصحابي قال: رضي الله عنه، وإذا قيل التابعي وغيره من أهل العلم والأخيار من المسلمين قيل: رحمه الله، ولو قيل: رضي الله عنه فلا حرج والحمد لله، كله طيب..

Berkata Ibn Baaz rohimahullah : "Tidak apa-apa disebutkan rodiylohuanhu kepada mukminin baik dari tabiin atau itbaa attabii, meski yang masyhur di kalangan manusia adalah arridho untuk shohabah dan rohimahulloh untuk setelah shohabat, maka ini perkara yang luas. Boleh bagi mukminin disebut rohimahulloh atau rodiyallohuanhu." 

https://binbaz.org.sa/fatwas/17307/مشروعية-الترضي-على-الصحابة-والتابعين

والله أعلم

════ ❁✿❁ ════

Bolehkah Memboikot Orang Tua ?

06.42

══════════════════
   🔰  FAKULTAS AQIDAH 🔰
               ⭐️ TAUHID ⭐️
       SOAL JAWAB No. 61
══════════════════

🔴 BOLEHKAH KITA MENGHAJR ATAU MEMBOIKOT ORANG TUA? ❔❓

📩🔓 Pertanyaan :

Assalamu'alaikum ustadz... 
Ana mau tanya apa yang kita lakukan ketika kita sudah memperingati kemaksiatan yang dilakukan oleh orang tua kita. Apakah kita boleh memboikot?, (biasanya ana mengasih uang belanja kepada orang tua ana sekarang ana tidak ngasih lagi uang belanja) kepada mereka? 


👆💬 *Ustadz Saeed Albandunjie* _(Abu Yaman -laqob dari Syeikh Adil Manshur-)_

Asal dari hubungan baik dengan orang tua kita adalah perbuatan yang paling wajib. Bahkan Alloh memerintahkannya setelah setelah perintah tauhid dalam peribadatan. Seperti dalam firman-Nya :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." 
(QS. Al-'Isrā' : 23) 

Maka asal hukumnya tidak boleh menghjar (memboikot) orang tua kita yang tenggelam dalam kemaksiatan. Carilah jalan yang terbaik dahulu untuk mengembalikan orang tua kita ke jalan yang alhaq, selain cara pemboikotan. Misalnya dengan nasehat yang penuh hikmah dsb. 

Namun jika semakin hari semakin menjadi kemaksiatannya apalagi berhubungan dengan kesyirikan seperti orang tua yang sering mengamalkan klenik, sihir, perdukunan karena melakukan praktek sihir membatalkan Islam, termasuk di dalamnya menjadikan seseorang benci kepada istrinya atau sebaliknya, seperti mengerjakan pelet atau santet. 

Maka pelaku dukun atau pelaku sihir telah kafir keluar dari Islam karena mayoritas sihir dikerjakan dengan perantara menyembah selain Allah Ta’aala.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“…Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir…’” 
(QS. Al-Baqarah : 102) 

Atau jika orang tua menjadi kuncen kuburan yang mengajak manusia berdoa dan ngalap berkah kepada kuburan orang yang sudah mati atau orangtuanya meminta doa kepada mayit dari wali atau assyeikh habiib alfulani dan melaksanakan sesembelihan untuk wali yang sudah mati, maka ini KESYIRIKAN BESAR. Alloh berfirman : 

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ. إِن تَدْعُوهُمْ لاَ يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلاَ يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah dari orang yang sudah mati baik Nabi atau wali atau solihiin tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” 
(QS. Fathir: 13–14). 

Atau yang menyebabkan kepada kekufuran seperti meninggalkan sholat lima waktu bertahun-tahun, seperti di hadits dikeluarkan Imam Muslim dari Jabir :
 الرَّجُلِ وَبَيْنَ الكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Antara seseorang dan kekafiran adalah shalat.

Maka jika memang tidak ada jalan yang paling baik untuk menghalau orang tua dari kesyirikan atau kekufuran, kecuali dengan hajr atau boikot, seperti tidak diajak bicara atau tidak diberikan uang, 
-meski makan dan minum harus terus dinafkahi-, maka boleh untuk menghajrnya seperti difatwakan oleh As-Syeikh Ibn Al-Utsaimin :

فقد سئل الشيخ ابن عثيمين ـ رحمه الله: هل يجوز الهجر للوالدين المسلمين إذا كان في مصلحة شرعية؟ فأجاب: نعم، إذا كان في هجر الوالدين مصلحة شرعية لهما فلا بأس من هجرهما، لكن لا يقتضي ذلك منع صلتهما، صلهما بما يجب عليك أن تصلهما به، كالإنفاق عليهما، في الطعام والشراب والسكن وغير ذلك.

Apakah boleh memboikot/hajr kedua orang tua yang muslim untuk kepentingan assyariat. 

⏬⏬⏬

Dijawab oleh As-Syeikh : naam. Boleh jika dalam pemboikotan keduanya ada maslahah tidak apa-apa untuk diboikot keduanya. Namun dengan begitu tidak memutuskan silaturohmi dengan keduanya. Maka meski diboikot maka mereka tetap harus mendapatkan makanan dan minuman dan tempat tinggal baginya. 
(Selesai Nuurun ala Addarb).

والله أعلم

════ ❁✿❁ ════

Benarkah Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriyah

06.25

══════════════════
 🔰 FAKULTAS MANHAJ 🔰
        SOAL JAWAB No. 150
══════════════════

✴️☪️ *SHAHIHKAH DO'A AKHIR DAN AWAL TAHUN HIJRIAH YANG BEREDAR DI MASYARAKAT INI*❓


❓ 🔊 *Pertanyaan :*  

Ustadz, shohihkah do'a akhir dan awal tahun Hijriah, yang lafadznya seperti di bawah ini? 
Jazakallahu khairan. 

*DO'A AWAL TAHUN*
_(Dibaca setelah Maghrib 3x)_

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ
اَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


*DO'A AKHIR TAHUN*
_(Dibaca setelah Salat Ashar hingga sebelum Maghrib di hari terakhiri bulan Dzulhijjah)_

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَىَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَا ئَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَ الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعَ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


👆✍️ *Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman As-Salafy* _-hafidzohullah-_ :

Do'a-do'a di atas itu dilansir tercantum dari kitab :

حاشية الشيخ كنون على البناني،

❌ *Yang tidak bersanad dan jika rujuk ke kitab Sunan dan Musnad, tidak kita dapati sanad dan matannya' _wallohu a'lam_ bagaimana mereka mengamalkan perkara ini?*.

Maka nasihat saya, agar *TIDAK MENYIBUKAN DIRI* dengan perkara-perkara yang belum jelas, karena d*o'a itu adalah ibadah* sesuai firman-Nya : 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

_“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdo’alah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.’ Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina dina”_ 
📚 *(QS. Ghafir: 60)*

Dan di hadits Nu'man bin Basyir diriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad yang shohih. Dishohihkan syeikh kami Muqbil Al-Wadi’i di Ashohih al-Musnad. 

النعمان بن بشير، أن النبي ﷺ قال: «الدعاء هو العبادة» ثم قرأ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين =-﴾[سورة غافر، الآية: 60.

_"Berkata Nabi ﷺ bahwa doa itu ibadah, kemudian membaca ayat di atas."_

Maka ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa...

*Do'a itu ibadah, maka ia harus mutabaah dengan sunnah-sunnah yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ.*

Sementara do'a akhir dan awal tahun di atas *BUKAN* dari sunnahnya Nabi kita ﷺ. Yang jika kita mengamalkan do'a-do'a tersebut maka akan *TERTOLAK DAN TIDAK BERPAHALA.* Sesuai hadits Aisyah yang muttafaqun alaih :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

_“Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama ini yang tidak ada perintahnya dari kami, maka hal itu tertolak”_

Dalam riwayat Muslim berbunyi:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد 

_“Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak”_

Dan ini termasuk membuat perkara baru dalam agama atau bid'ah yang sesat, yang bisa menimbulkan konsekuensi pelakunya _-go to the hellfire-_ di masukkan ke dalam neraka. Seperti di Shohih Muslim dari Jaabir bin Abdillah rodiyallohu anhu :

فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدى هدى محمد، وشر الأمور محدثاتها، و"كل" بدعة ضلالة

_“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baiknya petunjuk Alustadz Saeed Albandunjie (Pembina Ma'had Muqbil Alwadi'i Dharmasraya Sumbar), [11.09.18 15:21]
adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru, dan setiap bid’ah (hal baru) adalah sesat”_

Juga dalam riwayat an-Nasa'i :

وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار

_“Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru, dan setiap bid’ah (hal baru) adalah sesat, dan setiap kesesatan akan masuk neraka”._

Maka sibukkanlah kita dengan amalan-amalan yang sudah jelas keshohihan dari Nabi kita saja, yang sangat banyak sekali jumlahnya yang belum kita laksanakan. 

Maka do'a-do'a ini tidak benar riwayatnya diamalkan oleh Nabi kita ﷺ. Dan juga tidak kita dapati dari atsar bahwa para shohabat seperti Abu Bakar atau Umar bin Al-Khottob atau Utsman atau Ali dari para khulafaarrosyidin dan selainnya, dari shohabat para perowi hadits terbanyak seperti Abu Hurairoh, Anas bin Malik, Ibn Umar dan Aisyah maka tidak pula kita dapati amalan-amalan ini dari mereka. 

Dan tidak kita dapati pula khabar maqthu dari para tabiin kibaar seperti Said bin Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Qotadah, Muhammad bin Sirin dan Atho bin Abirobaah. 

Tidak juga kita dapati fatwa-fatwa tentang do'a-do'a ini dari al-Fuqohaa al-Arbaah seperti Abu Hanifah, Malik, as-Syafi’i dan Ahmad, juga fatwa-fatwa ulama muashirin zaman now misalnya fatwa dari Lajnah ad-Daimah atau as-Syeikh al-Albani atau Ibn Baaz dan Ibn al-Utsaimin dan syeikh kami as-Syeikh Muqbil Al-Wadai'i, tidak kami dapatkan pula dari mereka to advice dan mentarghib amalan do'a-do'a ini. 

Maka, cukuplah dengan ucapan shohabat al-Jaliil Abdulloh bin Mas'ud rodiyallohu anhu :

وقال عبد الله بن مسعود ـ رضي الله عنه ـ الاقتصاد في السنة خير من الاجتهاد في البدع (1)

_"Sederhana dalam melaksanakan sunnah (yang jelas shohihnya dari Nabi) lebih baik dari bersungguh-sungguh dalam kebid'ahan."_


 *--------footnote-----* 
 *(1)* Atsar ini diriwayatkan ad-Daarimi dan al-Marwazidi as-Sunnah dan al-Haakim dan Al-Baihaqi yang semua sanadnya bertumpu kepada...

أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ عُمَارَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ..به

Atsaar ini shohih seluruh sanadnya tsiqot. Adapun al-A'mash mudalis tetapi Umaroh adalah guru al-A'mash yang banyak sekali beliau mengambil hadits dari Umaroh, bahkan di Shohih al-Bukhori dan Muslim dan muttafaq alaih banyak sekali dinukil periwayatan al-A'mash dari Umaroh bin Umair. Sesuai kaidah yang disebutkan ad-Dzahabi di al-Mizaan. 
Selain itu, Abu Muawiyah ad-Dhoriir _-murid al-A'mash yang paling kuat periwayatan darinya,-_ maka dia akan mengetahui mana hadits al-A'mash yang bertadlis dan mana yang tidak ada tadlishnya. Maka atsar inipun telah dishohihkan oleh as-Syeikh al-Albani di Shohih at-Targhiib. Dan datang jalan lain di as-Sunnah lil Marwazi sebagai penguat. 

قال ابن نصر جدَّثَنَا يَحْيَى، أنبا عَبْثَرٌ أَبُو زُبَيْدٍ، عَنِ الْعَلاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنِ الْمُسَيَّبِ، عَنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: اقْتِصَادٌ فِي سُنَّةٍ خَيْرٌ مِنَ اجْتِهَادٍ فِي بِدْعَةٍ

Semua rijaalnya tsiqoot namun sayang, berkata Abu Haatim (jagoannya ilmu ilalul hadits) bahwa al-Musayyib tidak mendengar dari Ibn Mas'ud maka hadits ini mursal. 

Maka dari dua jalan ini, atsar Ibn Mas'ud kuat untuk dijadikan pendalilan. 

والله أعلم

════ ❁✿❁ ════

Hukum Berkurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal

06.25
══════════════════
 🔰 FAKULTAS FIQH 🔰
     BAB SEMBELIHAN 
   SOAL JAWAB No. 140
══════════════════

☪️🚫 HUKUM BERKURBAN UNTUK ORANG TUA YANG SUDAH MENINGGAL

❓ 🔊 Pertanyaan :
Bismillah, ustadz... 
Bagaimana kalau kita kurban kambing yang kita niatkan untuk orang tua kita yang sudah meninggal? Apakah sampai pahalanya untuk almarhum, ustadz?
Jazakallahu khairan 


👆✍️ Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman As-Salafy

Bismillah, 
Untuk penyembelihan kurban untuk yang meninggal ada 2 (DUA) SIFAT :

💎 SIFAT PERTAMA :
Jika sang mayit (ayah)  mewasiatkan sebelum meninggal untuk diambil dari hartanya dibelikan sapi atau kambing dan disembelihkan untuknya di hari Ied Adha. Maka wajib bagi wali dan ahli warisnya untuk menyembelih sapi/kambing bagi mayit tersebut.
Sesuai firman Alloh :

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا ٱلْوَصِيَّةُ لِلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ بِٱلْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى ٱلْمُتَّقِينَ

"Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa..."
📚 (QS. al-Baqarah ayat 180)

💎 SIFAT YANG KEDUA :
Sang mayit tidak mewasiatkan. 

Maka terjadi ikhtlaaf tentang hukum menyembelih qurban dikirim untuk mayit tanpa wasiat menjadi 3 (tiga) pendapat :

1⃣ Pertama: boleh dan bisa tersampai. Ini pendapat jumhur. 

2⃣ Kedua: tidak diterima kepada mayit. Dan ini ucapan Imam as-Syafi'i.

Berkata an-Nawawi: 
"tidak menyembelih untuk orang lain selain izinnya. Tidak boleh menyembelih untuk yang meninggal selain jika ada wasiat."
📚 Al-Minhaaj

قال الإمام النووي رحمه الله في المنهاج: ولا تضحية عن الغير بغير إذنه، ولا عن ميت إن لم يوص بها. انتهى.

3⃣ Ketiga: dimakruhkan.
Dan ini madzhab Malik. Karena tidak ada sunnah dari Nabi ﷺ. Dan kebanyakan penyembelihan seperti ini masuk kepada perkara saling berbangga-banggaan.

قال مالك في الموازية: ولا يعجبني أن يضحي عن أبويه الميتين، قال: وإنما كره أن يضحى عن الميت لأنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أحد من السلف، وأيضا فإن المقصود بذلك غالبا المباهاة والمفاخرة.  انتهى

✅ Yang rojih wallohuaalamu: 
Jika memang tidak diwasiatkan oleh sang mayit maka tidak sampai kepada mayit.

Sesuai firman-Nya dalam 📚 Surat an-Najm ayat 39-40 :

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

"(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,"

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

"dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,"

Dan di hadits Abi Hurairoh di Shohih Muslim 

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: "إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم يُنتفع به أو ولد صالح يدعو له"

Bersabda Rosululloh ﷺ : 
"jika meninggal anak Adam maka terputus seluruh hubungannya dengan dunia kecuali 3 perkara : Shodaqoh dia yang mengalir (membangun masjid, ponpes dan sebagainya);  ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholih yang mendoakannya."

✅ Maka dari dua dalil di atas, sembelihan tersebut tidak akan bersambung kepada mayit. Tidak termasuk 3 perkara yang menyambungkan mayit dengan amalan-amalan dunianya. 

Berkata as-Syeikh Ibn al-Utsaimin rohimahulloh :
"tidak disyariatkan menyembelih untuk mayit. Karena tidak ada hadits shohih dari Nabi tentang menyembelih dikirim untuk mayit. Padahal telah meninggal Khodijah istrinya yang paling dia cintai. Dan meninggal pamannya Hamzah di perang Uhud yang paling dia cintai dan meninggal 3 putrinya di zamannya, tapi tidak disembelihkan untuk mereka. Maka jika disyariatkan menyembelih untuk mayit akan ada sunnah ucapan, perbuatan atau persetujuan dari Nabi dan tidak ada atsar dari shohabat melakukannya di zaman Nabi. Meski tidak dilarang namun para ulama pun mengatakan tidak bermanfaat sembelihannya. Maka perkara yang perlu diingkari yang dilakukan banyak orang sekarang sibuk menyembelih untuk yang sudah mati dan melupakan dirinya dan keluarganya yang masih hidup. Tanpa meniatkan untuk yang masih hidup maka ini menyelisihi sunnah. Karena asal sembelihan itu adalah untuk orang-orang yang masih hidup."
📚 Fatwa Nuur Alaa ad-Darb 2/13

ولكن ليس هذا بأمرٍ مشروع ليس هذا بأمرٍ مشروع لأنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه ضحى عن أحدٍ من أمواته فقد ماتت أم المؤمنين خديجة رضي الله عنها وهي من أحب النساء إليه ولم يضح لها واستشهد عمه حمزة بن عبد المطلب في أحد ولم يضح عنه ومات له ثلاث بنات في حياته ولم يضح عنهن ولو كان هذا أمراً مشروعاً لبينه النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم إما بقوله وإما بفعله وإما بإقراره ولم يعلم أن أحداً من الصحابة ضحى عن أحدٍ من أمواته في حياة النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم لكن لو ضحى عن ميت لم يمنع وإن كان بعض أهل العلم قال إنه.  لا ينفع الميت.. 
والشيء الذي ينبغي أن ينكر ما يفعله بعض الناس تجده يشتري الأضحية من ماله ويضحي بها عن أمواته ولا ينويها عنه وعن أهل بيته وهذا أمرٌ خلاف السنة بلا شك فالأضحية في الأصل عن الأحياء فقط 
فتاوى نور على الدرب للعثيمين(13/2)


والله أعلم

════ ❁✿❁ ════

Apakah Anak Angkat Dapat Warisan

06.24
══════════════════
 🔰 FAKULTAS FIQH 🔰
        BAB WARISAN 
   SOAL JAWAB No. 136
══════════════════

Soal dari *Pak Norman Johor Baru Malaysia 🇲🇾*

🚫⚠️ *APAKAH ANAK ANGKAT BERHAK MENDAPATKAN WARISAN*❓❔

📩 🔊 *Pertanyaan :* 

Assalamu'alaikum Ustadz Sa'eed...
Barakallahu Fikum. Ana ikhwan Johor.
Perkenalan kita sewaktu di Rumah Pak Shahril dulu.
Ingin tanya, berkaitan pembahagian harta alfaraid (waris). 
Contoh anak angkat adakah ianya layak (mendapatkan warisan). Keluarga tiada anak jadi ambil anak angkat.
Mohon pencerahan ustadz. 
Waalaikumussalaam 


👆✍️ *Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman As-Salafy* 🇮🇩

Agar banyak faidah, selain masalah hukum waris bagi anak angkat, akan kita bahas juga hukum menjadikan anak angkat dalam Islam. 

Hukum mengambil anak angkat, sangat baik didalam Islam bahkan pahalanya sangat besar di sisi Allah. Seperti disebutkan dalam hadits di Shohih al-Bukhori dari Sahl bin Saad :

عن سهل بن سعد، قال: رسول الله - صلَّى الله عليه وسلَّم -: أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا

Berkata Rasulullah ﷺ : _"aku dan pemelihara anak yatim di surga akan seperti dua jari ini." (jarak antara telunjuk dan jari tengah)_

Maka masuk kepada keumuman hadits ini adalah orang yang menjadikan anak yatim sebagai anak angkatnya. 

Namun, dalam agama Islam ada dua hal penting yang harus sangat diperhatikan dalam perkara mengangkat anak (adopsi) ini, yaitu :

1⃣ *Si anak tidak boleh dinasabkan kepada nasab bapak angkatnya* 
Misalnya, nama si bapak angkat adalah : Abdulloh al-Jailani. Nama anak angkatnya : Ahmad dan qobilahnya al-Jufri. 

❌Maka anak ini tidak boleh dipanggil *~Ahmad bin Abdulloh al-Jailani~*, ❌
tapi *harus atas nama dan qobilah bapak kandungnya.* 

Kalau bapaknya diketahui bernama Sholih, maka anak itu harus dipanggil dengan nama✔️  *Ahmad bin Sholih al-Jufri*✅

Adapun seperti kebanyakan anak angkat yang dijadikan anak dari rahim dan disebut dengan nama bapak kandungnya. Baik dipanggilan sehari hari atau 
di ktp / pasport. maka ini hukumnya ❎ *Harom*. 

Nabi ﷺ saat mengangkat Zaid jadi anak angkatnya dan memanggilnya dengan Zaid bin Muhammad, maka diturunkan ayat untuk menjelaskan perkara Zaid tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

_“Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).”_
📚 *(QS al-Ahzaab: 4)*.

Imam Ibnu Katsir berkata, _“Sesungguhnya ayat ini turun (untuk menjelaskan) keadaan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, bekas budak Rasulullah ﷺ. Sebelum diangkat sebagai Nabi, Rasulullah ﷺ mengangkatnya sebagai anak, sampai-sampai dia dipanggil “Zaid bin Muhammad” (Zaid putranya Muhammad ﷺ), maka Allah Ta’ala ingin memutuskan pengangkatan anak ini dan penisbatannya (kepada selain ayah kandungnya) dalam ayat ini, sebagaimana juga firman-Nya di pertengahan surah al-Ahzaab,"_

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

_“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”_
📚 *(QS al-Ahzaab: 40)*

Sehingga dari ayat di atas diharomkan menisbahkan anak angkat kepada orang tua angkatnya , sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

_“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa bagimu terhadap apa yang kamu salah padanya, tetapi (yang ada dosanya adalah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”_
📚 *(QS al-Ahzaab: 5)*

✔️ *Maka dari perkara di atas bahwa anak angkat TIDAK SAMA dengan anak kandung. Begitupun di ilmu waris.*

2⃣ Inilah perkara yang kedua : 
*Tidak ada jatah syar'i dari kedua orang tua angkat untuk anak pungut kecuali melalui wasiat.*

Dan jika dituliskan oleh orang tua angkatnya di surat wasiat, maka harus dipenuhi. Dan saudara-saudaranya harus rela atas pembagian untuk saudara angkatnya. 

«كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ» سورة البقرة آية 180

_"Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa."_
📚  *(QS Al-Baqarah : 180)*

Adapun jatah pembagian :
⚠️ *_" tidak boleh lebih dari sepertiga.."_*

Seperti di hadits Sa'ad bin Abi Waqoosh di Shohih Muslim. 

Berkata Sa'ad yang sedang sakit kepada Nabi yang datang menziarohinya 

أنا ذو مال ولا يرثني إلا ابنة لي واحدة أفأتصدق بثلثي مالي قال لا قال قلت أفأتصدق بشطره قال لا الثلث والثلث كثير إنك أن تذر ورثتك أغنياء خير من أن تذرهم عالة يتكففون الناس.

_"Aku mempunyai harta yang banyak dan tidak ada yang mewarisiku kecuali satu anak perempuanku. Bolehkah aku bershodaqoh dengan 2/3 hartaku? (diwasiatkan). Berkata Nabi, tidak boleh. Kalau setengahnya?, tidak boleh juga. Kalau sepertiganya?. Sepertiga sangat banyak. Jika engkau meninggalkan warisan bagi ahli warismu, mendapatkan harta yang banyak lebih baik daripada kamu meninggalkan dia dalam keadaan faqir dan membutuhkan rasa kasihan dari manusia."_

⭕️ Maka lebih mendekati sunnah agar diberikan wasiat lebih kecil dari sepertiga seperti seperempat (1/4) atau seperlima (1/5) 

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: لَوْ غَضَّ النَّاسُ إِلَى الرُّبْعِ، لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ أَوْ كَبِيرٌ

Seperti di hadits Ibn Abbaas yang muttafaqun alaih. 
_"Jika untuk pembagian wasiat shodaqoh diturunkan kepada seperempat lebih baik. Karena Nabi ﷺ telah bersabda : '1/3 banyak dan besar.'"_


والله أعلم

════ ❁✿❁ ════