TANGGAPAN SYAIKH MUQBIL ALWADI'I ATAS SYUBHAT BAHWA SYAIKH AL-ALBANI, SYAIKH IBN BAZ DAN SYAIKH IBN AL-UTSAIMIN ROHIMAHUMULLOH MENGHALALKAN PEMILU DAN DEMOKRASI

22.31
══════════════════
 🔰  FAKULTAS MANHAJ 🔰
   ‎  ⭐️ SYUBHAT PEMILU 🌟
      ‎🌟FATWA AS-SYAIKH 🌟
      ‎ 🌟MUQBIL ALWADI'I🌟
         SOAL JAWAB No. 95
══════════════════
Hasil gambar untuk pemilu
TANGGAPAN SYAIKH MUQBIL ALWADI'I ATAS SYUBHAT BAHWA SYAIKH AL-ALBANI, SYAIKH IBN BAZ DAN SYAIKH IBN AL-UTSAIMIN ROHIMAHUMULLOH MENGHALALKAN PEMILU DAN DEMOKRASI

Berkaitan dengan Fatwa Masyaikh yang ada di materi Soal-Jawab No. 91-94 lalu, ada tambahan dari *Al-Ustadz Saeed Albandunjie Abu Yaman حفظه اللــــــــه* sebagai berikut :

Dan sebelum beliau (Syaikh Muqbil Alwadi'i) wafat, saya masih ingat tentang Soal-Jawab masalah pemilu dan demokrasi yang ditanyakan pada beliau.

Para pecinta politik melemparkan syubhat tentang fatwa-fatwa ulama ahlusunnah seperti Syaikh al-Albani, Syaikh Ibn Baz dan Syaikh Ibn al-Utsaimin rohimahumulloh yang mengatakan bahwa masyaikh tersebut menganjurkan pemilu dan demokrasi. Lolongan syubhat dari dai2 pemilu ini sudah dibantah oleh Syaikh kami al-Muhadits Muqbil Alwadi'i rahimahullah.

Herannya, polemik ini berulang dan muncul kembali di Indonesia saat dai-dai Rodja, yaitu Firanda dan konco-konconya, yang tergabung dalam Majlis Fatwa al-Irsyad berfatwa membolehkan pemilu saat pesta demokrasi.

Maka, di sini, sekarang, saya akan dendangkan kembali jawaban Syaikh kami Muqbil Al-Wadi’i untuk menyumpal lolongan syubahaat mereka.

🔐 Soal :
Para pendukung PEMILU berdalih dengan fatwa Syaikh Al Albany, Syaikh Ibnu Bazz dan Syaikh Al 'Utsaimin, maka bagaimana menurut anda?

👆✍️ *Syaikh Muqbil Al-Wadi’i :*

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله. وعلى. آله وأصحابه ومن والاه وأشهر أن لا إله. إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله..أما بعد

Para pendukung PEMILU itu adalah musuh-musuh para masyaikh tadi, sungguh kami pernah dengar di komite Ma'had Ilmiyah di Shan'a bahwa Al-Albani adalah Masuni, manakala beliau memberi fatwa untuk kaum muslimin di Palestin untuk keluar, karena negara itu sudah jadi medan perang, merekapun menghantamnya, memvonisnya sebagai orang sesat dan mubtadi'.

Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Syaikh bin Baaz, manakala beliau berfatwa pada kejadian Al Khalij dan ketika beliau berfatwa untuk damai dengan orang Yahudi, dan kami mengatakan ini tanpa membahas benar tidaknya fatwa-fatwa tersebut, merekapun menyerangnya dan menjelek-jelekkan beliau di antara mereka adalah Yusuf Al Qordhowy, -semoga Allah tidak memberkahinya-, sebenarnya mereka mau membakar (menjatuhkan kredibilitas) ulama, karena mereka tidak layak untuk hizbiyyah kecuali apabila mereka butuh untuk minta fatwa mereka, para hizbiyyun pergi ke para masyaikh mereka semacam Qordhowi, fulan dan fulan, adapun Ulama mereka tidak akan pergi kepada mereka bahkan mereka ingin membakar mereka.

Adapun fatwa ini, sungguh aku telah menelpon Syaikh Al-Albani hafidzahullah berkaitan dengan masalah ini, kukatakan kepada beliau: "Kenapa engkau bolehkan PEMILU?" Beliau jawab: "Aku tidak bolehkan PEMILU hanya saja dalam rangka mencegah bahaya yang lebih besar.

Maka kitapun melihat apakah yang terjadi di Aljazair bahaya yang paling ringan ataukah yang terjadi justru bahaya yang paling besar???

Bacalah sejarah Abu Hanifah, engkau akan dapati ulama kita melarang dari ro'y dan istihsan (mengembalikan perkara agama kepada akal dan anggapan baik tanpa dalil) dan ulama menganggap bahwa hal itu adalah jalan menuju kepada bid'ah mu'tazilah dan jalan menuju ke pemikiran Tajahhum, fatwa Syaikh Al Albani dari dulu mereka pegang.

Adapun Syaikh Ibnu Utsaimin yang mengherankan -dari perkaranya bahwasanya dia mengharamkan dari partai-partai dan kelompok- tapi dia bolehkan yang lebih besar dan lebih bahaya dari pada itu yaitu PEMILU yang merupakan batu loncatan kepada demokrasi.

Kukatakan kepada para mulabbis itu: Kalau para Masyaikh tadi taroju' dari fatwa mereka apakah kalian akan taroju' (juga) dari perkara ini atau tidak?Dan kami katakan: bahwasanya kami melihat keharaman taqlid (membebek), tidak boleh bagi kita untuk bertaqlid kepada Syaikh Al Albani, tidak pula terhadap Syaikh bin Baz dan tidak pula taqlid kepada Syaikh Al 'Utsaimin, sebab Allah Ta'ala berfirman dalam kitabNya yang mulia :

اتبعوا ما أنزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء قليلا ما تذكرون

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah engkau mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya, sedikit yang mengambil pelajaran"
(QS al-A'raf: 3)

Dan Allah subhanau wa Ta'ala berfirman:

ولا تقف ما ليس لك به علم

"Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu padanya"
(QS al-Isra': 36)

Jadi Ahlussunnah tidak taqlid.

Kemudian kami katakan kepada para masyaikh: bahwasanya fatwa kalian ini sangat berbahaya, tidakkah kalian mengetahui bahwasanya Bush (mantan presiden Amerika -pent) -semoga Allah menghinakannya- ketika menjadi presiden Amerika pernah berkata: bahwa Su'udiyyah dan Kuwait tidak menerapkan Demokrasi?

Hendaknya para masyaikh taroju' dari fatwa-fatwa ini, dan saya persaksikan kalian bahwasanya saya taroju' dari setiap kesalahan pada kitab-kitabku atau kaset-kasetku atau dakwahku karena Allah 'azza wa jalla.

Aku taroju' dengan senang hati, dan para masyaikh tiada beban atas mereka apabila mereka taroju', bahkan wajib atas mereka untuk taroju', karena mereka tidak tahu apa yang terjadi di Yaman, dan apa yang terjadi di Majlis Perwakilan Rakyat, dan kerusakan apa yang timbul disebabkan PEMILU, pembunuhan dan peperangan demi PEMILU, keluarnya wanita dengan berhias, foto wanita gara-gara PEMILU, menyamakan kitab, sunnah dan agama dengan kekufuran gara-gara PEMILU, dan maslahat apakah yang telah diwujudkan oleh PEMILU ini???

Maka wajib atas masyaikh untuk taroju', dan kami akan mengirimkan kepada mereka insya Allah, kalau mereka tidak taroju' maka kami mempersaksikan Allah bahwasanya kami berlepas diri dari fatwa mereka, karena fatwa tersebut menyelisihi kitab dan sunnah, mereka ridha atau marah, harga diri dan darah kami sebagai tebusan agama islam, kami tidak peduli bihamdillah.

Dan mereka (para pendukung PEMILU) telah terbakar, dan tahu bahwasanya ucapan mereka tiada harganya, kalau mau (coba) kirim seseorang tanpa mereka ketahui, bukan supaya jadi hizbi, tapi supaya dia tahu kalau ikhwanul muslimin telah terbakar di Yaman, dan keutamaan hanya milik Allah azza wa jalla semata.

Amar ma'ruf nahi mungkar, taroju', menolong orang yang dizalimi, menolong saudara mereka ahlus sunnah adalah kewajiban atas mereka, dan tinggalkan/jauhkan dari kami ro'yu dan istihsan.

Kami katakan kepada masyaikh: Apakah pernah ada PEMILU di zaman Nabi ﷺ, manakala mereka berselisih pada perkara Usamah bin Zaid apakah dia yang jadi pemimpin atau selainnya?!

Apakah Nabi ﷺ berkata: adakan pemilihan siapa yang dapat suara terbanyak maka dialah yang jadi amir?!

Dan apakah pernah ada Pemilu di zaman Abi Bakr?! Pernahkah ada Pemilu di zaman 'Umar?

Dan apa yang datang riwayat bahwasanya 'Abdurrahman bin 'Auf menyuruh orang-orang memilih sampai wanita dalam rumah pingitan mereka, ini perlu diteliti karena riwayatnya diluar kitab "shahih", maka butuh dikumpulkan sanad-sanadnya, dan saya yakin kalau dikumpulkan sanadnya hasil hukum riwayatnya syadz, dan syadz termasuk dari pembagian riwayat dhaif, kemudian sebagian ikhwah membahasnya diapin mendapati bahwa tambahan ini sangat dhaif.

Apakah pernah PEMILU di masa umawi atau 'Abbasi atau 'Utsmani? Ataukah PEMILU itu datangnya dari arah musuh-musuh Islam?!

Telah benar Nabi ﷺ manakala beliau bersabda:

لتتبعن سنن من قبلكم حذو القذة بالقذة حتى لو دخلوا حجر ضب لدخلتموه

"Sungguh kalian akan meniru kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah sampai kalau mereka masuk liang dhobb kalian akan masuki pula."PEMILU merupakan perpecahan dan memecah belah persatuan, permusuhan dan kebencian, sampai antar satu keluarga, gara-gara Pemilu ini, ikhwanul muslimin jangan kira bisa menipu kami karena sesungguhnya terkadang mereka memilih orang yang tidak shalat sambil mengatakan: "niatnya baik" ataukah memilih: orang tua yang jahil.

Sungguh dulu mereka menjanjikan manusia di PEMILU pertama bahwa tiada yang menghalangi antara mereka dan antara berhukum dengan hukum islam sampai selesai PEMILU, sekarang mana hukum dengan hukum Islam?! Mana pemenuhan janji menteri-menteri mereka yang dulu ada di dalamnya, dan ikhwanul muslimin mereka sendiri yang bilang: "Bahwasanya kami memutuskan suatu keputusan di Dewan Perwakilan, tapi hasilnya keputusan-keputusan selain itu, lalu akhir keputusan dengan apa yang datang dari luar (selain keputusan yang diinginkan)
Bertaqwalah wahai para masyaikh jangan kalian giring kami kepada para peniru Amerika, dan kepada demokrasi yang menghalalkan apa yang Allah haramkan, sungguh telah dibolehkan liwath pada sebagian negara kafir, dan dibolehkan semua yang haram.

Kita adalah kaum muslimin kita punya Kitabullah :

وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله

"Dan bahwasanya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (selainnya) sehingga kalian tercerai berai dari jalanNya."
(QS al-An'am: 153)

Apakah kita punya agama di zaman dahulu dan punya juga agama di masa sekarang ataukah dia adalah agama yang satu hingga hari kiamat?

Nabi ﷺ bersabda:

ﻻ تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لايضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلكث

"Senantiasa ada golongan dari umatku yang menang di atas kebenaran tidak memudharatkan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka hingga datang urusan Allah sedang mereka tetap di atas kebenaran."

Semoga para masyaikh taroju' dari fatwa ini, kita akan lihat apa yang akan diperbuat ishlahiyyun.

Wallahul mustaan.

📚 Dikutip dari Tuhfatul Mujiib, halaman 311-316, Percetakan Daarul Atsar.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »